Tampilkan postingan dengan label Cerita Sasak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sasak. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Si Kuat Medaran ( Si Kuat Makan )

0 komentar
Pada zaman dahulu di daerah Lombok selatan pesisir pantai takar-akar tinggallah seorang kyai beserta seorang istrinya. Sang suami namanya Penghulu Alim, dia dipanggil Pengghulu Alim karna dia adalah seorang kyai dan sering diundang  dalam acara kawinan sekaligus menjadi penghulunya. Pada suatu hari, penghulu alim diundang keacara kawinan, dan pada saat itu istrinya sedang dalam keadaan hamil, penghulu alim akan pergi beberapa bulan sehingga sebelum berangkat, sang penghulu alim menyerahkan seutas sabuk dan selendang kepada istrinya seraya berkata " istriku,,, nanti kalau anak kita lahir dan sudah mampu berjalan suruhlah untuk mencariku ditempat acara kawinan itu, dan ikatkan sabuk dan selendang itu sebagai pakaiannya agar aku dapat mengenalinya". istrinya dengan penuh kelembutan pun menjawab " baiklah kakak" seraya menyiapkan perbekalan untuk suaminya sang penghulu alim

Sepergian suaminya Penghulu Alim, lahirlah Si Kuat Makan (Si Kuat Medaran) dan dirawat oleh sang ibunya seorang. Ketika si kuat medaran sudah menginjak beberapa bulan dia sudah mampu berjalan dengan lincahnya. Namun selama kelahiran dia belum tau siapa dan dimana ayahnya. Akhirnya si kuat medaran  pun bertanya pada ibunya.

    "ibu… dimanakah ayahku?. Kata Si Kuat Medaran kepada ibunya.
    Ibunya menjawab; ayahmu diundang ke acara kawinan daerah sebelah, anakku…!
    "tapi kenapa sampai sekarang belum juga pulang.. Bu?  . Kata si kuat medaran lagi kepada ibunya.
Sambil mengelus anaknya ibunya pun menjawab,"mungkin ayahmu sibuk disana, karna banyak undang yang harus dipenuhi, kalau kau mau melihat ayahmu maukah kamu menyusulnya anakku..!. kata ibunya seraya menatap Si Kuat Medaran.
"Mau ibu, tapi dimanakah tempat ayah….
"berjalanlah desa diutara, nanti kalau kamu menemukan ada acara (begawe), tanyalah kepada warga disana tentang ayahmu Penghulu Alim.." kata ibunya
"kalu begitu baiklah buuu…"jawab Si Kuat Medaran

Akhirnya dengan perasaan cemas ibunya menyiapkan perbekalan untuk Si Kuat Medaran. Walaupun masih kecil tapi Si Kuat Medaran memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Setelah perbekalan sudah siap si kuat medaran pun berangkat. Selama dalam perjalanan Si Kuat Medaran tidak pernah menemukan suatu halangan yang berarti, walaupun masih kecil namun anak ini memiliki kekuatan yang sangat  tinggi dan anehnya lagi sang anak memiliki kebiasaan makan yang banyak tanpa pernah puas itulah sebabnya dia di juluki Si Kuat Medaran(makan). Sesampai ditempat itu, Si Kuat Medaran bertemu dengan beberapa anak kampung yang sedang bermain-main di luar pagar pembatas dusun itu, dan kebetulan disana kebetulan lagi ada acara kawinan atau begawe (roah ) dalam bahasa sasaknya. Sang anak pun ikut bermain dengan anak-anak itu, namun keanehan terjadi, setiap anak yang disentuh selalu merasakan kesakitan, ada yang nangis. Melihat hal itu ada anak asing yang datang kedusun mereka yang memiliki kekuatan aneh, akhirnya penduduk dusun itu pun membawa Si Kuat Medaran ketempat begawe atau acara itu, dan kebetulan ayahnya ada disana lagi pimpin acara pernikahan itu.

Penduduk desa membawa si kuat medaran keberanda atau betaran dan dikasih makan oleh penduduk setempat. Namun si kuat medaran selalu minta makanannya ditambah, penduduk setempat menuruti kemauan si kuat medaran, sampai-sampi persedian makanan untuk tamu yang lain pun habis. Sehingga ditempat inilah dia mulai dipanggil dan dijuluki si kuat medaran (makan). Mendengar ada kegaduhan dengan kedatangan anak masih kecil tetapi makannya tidak pernah kenyang akhirnya sang penghulu alim pun melihatnya dengan penuh penasaran. Dengan raut wajah yang kaget sang penghulu alim terkejut bukan main ketika melihat si kuat medaran itu adalah anaknya sendiri. Sang penghulu alim mengetahuinya dari pakaian dan sabuk yang dipakai Si Kuat Medaran karna itu adalah pemberiannya kepada istrinya dulu ketika sedang hamil. Dengan persaan malu penghulu alim tidak mengakui bahwa itu adalah anaknya sendiri. Penghulu alim pun pamit dan mebawa si kuat medaran untuk pulang kerumahnya menanyakan kepada istrinya apakah benar si kuat medaran itu adalah anaknya.

Setelah kejadian ditempat acara begawe itu, penghulu alim jadi sangat membenci si kuat medaran karna dia merasa telah dipermalukan oleh anaknya sendiri sebagai seoarang kyai. Ketika sampai dirumahnya sang penghulu alim pun langsung menemui istrinya kemudian bertanya"
    "istriku,,,! Panggil sang Penghulu Alim terhadap istrinya.
    "Yaa suamiku…" jawabnya dengan nada lemah lembut
    "apakah benar anak ini adalah anak kita" kata Penghulu Alim dengan nada sedikit garang.
Sang istri pun menjawabnya; "yaaa…  emang benar itu adalah anak kita, memangnya ada apa dengan anak kita"

Dengan rasa acuh dan angkuh sang penghulu laim pun berkata "dia telah mempermalukan aku, di tempat acara begawe itu, dengan kebiasaan makannya yang tidak puas dan merasa kenyang sampai persedian makanan ditempat itu habis dimakan oleh anak kita itu"
Namun si kuat medaran diam tak berkata, walaupun ayahnya memarahinya dan kini sudah membenci dirinya namun dia tetap penurut terhadap ayahnya penghulu alim. Sang penghulu alim sendiri sangat membenci anaknya sehingga dia berniat membunuh si kuat medaran meski dia adalah anak kandungnya sendiri.
Pada suatu hari sang penghulu alim berniat mau membunuh si kuat medaran. Dia mengajak si kuat medaran kesebuah sumur tanpa sepengetahuan istrinya. Sesampainya di sumur itu, sang penghulu alim langsung mengajak si kuat medaran untuk membuang air sumur itu. Tanpa banyak bicara si kuat medaran menuruti ajakan ayahnya meskipun Sang Penghulu Alim sangat membencinya. Akhirnya ketika air sumur sudah mau mengering  sang penghulu pun istirahat dan menyuruh Si Kuat Medaran untuk mengumpulkan ikan-ikan yang ada dalam sumur itu. Sang penghulung pun naik dari sumur itu, dan mencungkil sebuah batu yang sangat besar kemudian digelindingkankan kedalam sumur itu. Si kuat medaran yang lagi asyik mengumpulkan ikan didalam sumur itu pun langsung tertimpa oleh batu yang besar itu. Dengan perasaan puas telah membunuh anaknya yang dibencinya, penghulu alim langsung pulang.
Ibunya Si Kuat Medaran sedih dan gelisah semenjak kepergian suaminya dan  si kuat medaran yang  tak pulang-pulang juga. Ketika melihat sang suami penghulu alim sudah pulang sementara Si Kuat Medaran tak kunjung pulang, sang ibu bertanya kepada suaminya itu.
"suamiku… apakah kau melihat anakmu si kuat medaran" Tanya sang ibu dengan perasaan cemas.
Penghulu alim pun menjawabnya dengan jawaban yang singkat dan acuh "ah… tadi aku liat dia di hutan lagi mengejar burung" jawabnya acuh sembari masuk kedalam kamar dan tidur, karena merasa puas telah mampu membunuh si kuat medaran.
Sementara ibunya Si Kuat Medaran gelisah bercampu cemas, karna anaknya tak jua pulang, hingga matahari sudah masuk diperaduannya si kuat medaran masih belum juga pulang kerumah. Dengan perasaan cemas dan berlinang air mata sang ibu duduk diberanda rumahnya menunggu kepulangan anaknya Si Kuat Medaran. Ketika dipertengahan malam sang ibu yang lagi duduk sedih menunggu anaknya dikejutkan dengan kedatangan anaknya Si Kuat Medaran dengan membawa batu dipundaknya yang begitu besar seraya berkata;
"ibu… ibuuuu… dimanakah  aku taruh batu besar ini"
"Oohh taruhlah disana anakku" jawab ibunya dengan perasaan kaget campur senang karna anaknya sudah kembali.

Si Kuat Medaran pun membanting batu itu hingga terjadinya gempa disekitar rumahnya. Sementara Penghulu Alim yang lagi nyenyak tidur kaget dengan adanya gempa , dia langsung keluar rumah. Dan yang lebih mengagetkan dan membingungkan adalah pulangnya Si Kuat Medaran sambil membawa batu besar yang dia gunakan untuk membunuhnya tadi siang.     Konon batu itu sampai sekarang di sebut batu penyenger (yaitu batu dari sifat marah campur kesal dai penghulu alim)
Melihat kejadian ini,  lagi- lagi Penghulu Alim semakin berniat untuk  membunuh anaknya. kemarin dia gagal membunuhnya dengan menimpakan batu besar, kali ini penghulu alim berencana untuk mengajaknya  menebang pohon dihutan. Tapi Kali ini Penghulu Alim meminta izin kepada istrinya,,, untuk mengajak si kuat medaran untuk menebang pohon di hutan. Tanpa berpikir dan merasa mau dibunuh si kuat medaran pun menuruti ajakan ayahnya, begitu juga ibunya pun mengizinkannya.
Akhirnya keesokan harinya, ketika matahari mulai menyongsong sang ibu menyiapkan bekal seadanya dan peralatan untuk suami dan anaknya Si Kuat Medaran. Si Kuat Medaran dan ayahnya Penghulu Alim pun berangkat kehutan. hutan yang dipilihnya adalah hutan yang punya pohon-pohon yang besar. Setelah menemukan sasaran yang tepat dan pohon yang besar dan tinggi, penghulu alim pun langsung memulai untuk menebang pohon ini, sementara Si Kuat Medaran disuruh untuk istirahat dulu. Beberapa waktu kemudian penghulu alim sudah kelelahan, dia pun menyuruh anaknya si kuat medaran untuk melajutkannya. Setelah selang beberapa waktu pohon pun sudah punya tanda-tanda mau tumbang, dengan cepat penghulu alim menggantikan Si Kuat Medaran kemudian menyuruhnya untuk duduk ketempat dimana arah pohon itu akan tumbang. Tanpa berkomentar Si Kuat Medaran pun menuruti saja kemauan ayahnya. Ketika Si Kuat Medaran duduk ditempat yang disuruhnya sang Penghulu Alim melanjutkan untuk menebang pohon itu yang sudah mau tumbang. Dengan cepat  tumbanglah pohon itu tepat dimana si kuat medaran duduk. Karna besarnya pohon ini Si Kuat Medaran pun belum sempat untuk menghindar dan tertimpa oleh pohon ini hingga tidak berkutik. Lagi-lagi penghulu alim pulang dengan perasaan senang karna usahanya untuk membunuh si kuat medaran pun berhasil. Sesampai dirumah sang ibu pun bertanya kepada suaminya,,,
Kakanda suamiku,,, kemana anakmu Si Kuat Medaran. Kenapa dia tak pulang bersamamu…???
Penghulu alim ; "anakmu masih asyik bermain-main dihutan tadi, sudah aku ajak pulang tapi tidak mau….!!

Seperti hari-hari sebelumnya sang Penghulu Alim pun masuk kedalam kamar rumahnya. Sementara ibunya si kuat medaran mencemaskan anaknya.  Malam sudah tiba, tapi si kuat medaran tak juga ada yang pulang. Ibunya sedih campur gelisah menanti kepulangan anaknya diteras rumah. Dengan cara sebelumnya, ketika dipertengahan malam, si kuat medaran pun pulang dengan membawa pohon besar beserta ranting-rantingnya kerumahnya.

    "Ibu,,,, ibu,,, ayah… dimanakah aku menaruh pohon ini???" ,,,kata Si Kuat Medaran
     "Taruhkan saja disana anakku…" jawab sang ibu dengan senang karena anaknya telah kembali, namun dia kaget dan bingung dengan tingkah anaknya yang bisa membawa batu besar dan pohon yang besar. Sementara sang penghulu alim semakin menbenci kelakuan Si Kuat Medaran. Namun si kuat medaran masih menuruti kemauannya.

Setelah kejadian itu sang Penghulu Alim semakin membenci anaknya si kuat medaran, namun Si Kuat Medaran tetap menuruti kemauan ayahnya. Sang penghulu alim bingung dengan cara apa untuk melenyapkan anaknya itu. Sehingga kali ini dia berpikir untuk mengusirnya tanpa sepengetahuan ibunya. Si kuat medaran pun menuruti kemauan ayahnya sehingga dia pun pergi kearah barat di wilayah Poret yaitu salah satu dusun kecil didaerah pesisir pantai. Setelah beberapa lama tinggal ditempat itu, dengan kelakuannya yang kalau makan tak pernah kenyang membuat masyarakat di didusun Poret ini enggan untuk mengasihnya makan. Pada suatu waktu si kuat medaran merasa lapar sekali, dan meminta makanan pada penduduk. Sehingga salah satu warga yang memiliki sebuah lumbung padi yang mau mengasihnya makan tapi dengan memberi satu syarat. Orang ini akan memberi makan apabila Si Kuat Medaran mampu mengangkat lumbung padi miliknya dan jika bisa mengangkatnya, dia boleh membawa pulang lumbung padi itu. tanpa banyak komentar si kuat medaran menuruti syarat itu. Dengan kesaktian yang dimilikinya dia mengangkat lumbung itu, dan bergegas pulang. Sementara orang itu tercengang kaget melihat kejadian itu, dia merasa menyesal telah meremehkan Si Kuat Medaran.
Sambil membawa lumbung padi beserta isinya, Si Kuat Medaran pulang kerumahnya. Ibunya sudah lama menunggu kepulangannya. Sesampai dirumahnya, Sang Penghulu Alim dan sang ibu kaget dengan anaknya itu. Kali ini sebuah lumbung yang dibawa pulang. Sang penghulu alim melihat kepulangan Si Kuat Medaran, semakin membencinya dan semakin kesal terhadapnya. Dengan segala usaha untuk melenyapkan si kuat medaran namun selalu gagal.

Kini Si Kuat Medaran sudah tumbuh dewasa, namun ayahnya tetap membencinya. Tak ada rasa kasih saying yang diberikan ayahnya untuknya. Ayahnya berharap tidak mau melihatnya. dengan itulah Si Kuat Medaran merasa harus pergi jauh dari hadapan ayah untuk selamanya. Dia pun berbicara kepada ibunya dan menjelaskan tentang ayahnya yang selama ini membencinya dan tak pernah mengangganya sebagai anaknya. Si kuat medaran meminta izin dan restu ibunya untuk pergi jauh mengembara untuk selamanya. Walupun berat hati walau ibu maupun si kuat medaran namun tidak pilihan lain baginya kecuali pergi. Sang ibu dengan berat hati mengizinkan anakmya itu.
Keesokan harinya sang ibu  menyiapkan perbekalan untuk anaknya Si Kuat Medaran dengan seadanya. Sang ibu menyiapkan tujuh buah ketupat, satu pisau kecil dan moto siu (adonan dari beras merah yang dicampur parutan kelapa).ibunya menyediakan pisau untuk membelah ketupatnya. Setelah perbekaln sudan siap si kuat medaran pun berpamitan kepada ibunya dan juga ayahnya penghulu alim. Dengan menangis sang ibu memeluk anaknya erat-erat karna ini adalah pelukan terakhir untuk anaknya itu, sedangkan sang penghulu tetap biasa saja, ,malah dia senang sekali atas kepergian Si Kuat Medaran. Seusai berpelukan Si Kuat Medaran pun berangkat dan pergi mengembara kearah timur.

Selama dalam pengembaraannya dia bertemu dengan dua seorang pemuda yaitu Seger Penyalin dan Kambing Moter. Dengan kedua sahabatnya itu dia jalani hari-harinya dan melawan jin-jin maupun seorang raksasa yang menggangunya sampai mereka bertemu dengan tiga orang gadis. Salah satu gadis itu berpakaian kotor karena dilumuri lumpur. Merka sangat menginginkan seorang untuk menemaninya selama dalam pengembaraannya. Mereka pun melakukan undian siapa yang menang dia yang dapat yang paling cantik. Namun Si Kuat Medaran selau kalah dan dengan terpaksa dia mendapatkan gadis yang kotor itu. Namun Si Kuat Medaran sangat terpesona akan kecantikan gadis itu setelah gadis itu membersihkan dirinya. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya Si Kuat Medaran yang terpana melihatnya, seger penyalin dan kambing moter pun melihatnya tanpa berkedip dan merasa iri terhadap si kuat medaran. Malah mereka ingin mengulangi undian itu.
Selama dalam pengembaraannya Si Kuat Medaran dan teman-temannya itu, memberikan nama setiap tempat yang di lewati diantaranya dusun Tambuk dan Gunung Junjung. Dan konon ceritanya Si Kuat Medaran Ini adalah nenek moyang dari raja pejanggik di Lombok timur.

 
****** TAMAT ******
=========================================================================
Sumber :  http://marim-senkreng.blogspot.com
read more

Asal Usul Nama Kota Ampenan

0 komentar
kota ampenanTersebutlah pada zaman dahulu, kerajaan Bali berhasil membakar Desa Kenaga. Saat itu, yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kenaga adalah Suradadi. Paihnya bernama Raden Satria Nata.
Setelah kalah perang dengan Bali, Raden Satria Nata bersama pengikutnya mencari tempat untuk membuka desa baru. Akhirnya, dijumpailah tempat yang mirip dengan desa Kenaga. Desa itu bemama desa Madya. Raden Satria Nata dan pengikutnya kemudian membuka ladang dan bercocok tanam di situ. Tanaman yang paling cocok adalah jenis “komak” (dalam bahasa Jawa disebut “kara”). Konon, pada saat komak sedang berbunga, datanglah putri Jin mengisap sari bunga komak. Salah satu putri Jin tertangkap oleh Raden Satria Nata. Singkat cerita, putri Jin itu kemudian menjadi permaisuri Raden Satria Nata. Namun, kedua belah pihak telah bersepakat untuk tidak saling berbicara selama menjadi suami istri.
Dalam perkawinan mereka, lahirlah seorang putra yang sangat disayang oleh Raden Satria Nata. Perasaan itu ingin ia ucapkan kepada istrinya. Namun, hal itu tidak mungkin karena ia tidak ingin melanggar janji yang telah disepakati.
Pada suatu hari, sang istri pergi ke perigi (sumur) mengambil air. Anaknya ditidurkan di atas “geong” (ayunan). Pada waktu itu, sang bayi sudah bisa duduk. Kesempatan itu dipergunakan oleh Raden Satria Nata untuk mengambil selendang yang biasa dipakai untuk menggendong putranya, lalu disembunyikan. Sejenak ia mengelus putranya yang sedang tidur nyenyak.
Tidak berapa lama kemudian, datanglah sang ibu. Sesampai di rumah, sang ibu melihat putranya sudah bangun dan menangis. Maka diangkatlah putranya, sambil mencari-cari selendangnya. Tanpa bicara sedikit pun sang ibu keluar masuk kamar mencari selendangnya, namun tidak dijumpainya.

Melihat wajah istrinya dan tingkah lakunya, Raden Satria Nata bertanya, “Apa yang engkau cari? Barangkali ini.” la berkata sambil menyodorkan selendang yang diambilnya. Istrinya segera mengambil selendang itu dan dengan sopannya ia bersimpuh dan berkata, “Sampai di sini kita hidup bersama. Saya terpaksa meninggalkan kanda karena kanda telah melanggar janji yang telah kita sepakati.” Kemudian, ia bangkit dan pergi mengambil “joman” (jerami) dan dibakarnya. Sang putri bersama Putranya lenyap bersama lenyapnya kepulan asap jerami.
Raden Satria Nata tak mampu menahan kepergian istrinya, kemudian ia pingsan. Setelah siuman ia dianjurkan untuk bertapa di gunung Sesang, agar bisa bertemu dengan anak istrinya.
Selama sembilan hari sembilan malam, ia tidak bisa berjumpa dengan istri dan anaknya. Hanya suara istrinya yang terdengar. Istrinya mengatakan bahwa dirinya tak mungkin kembali. Yang mungkin kembali adalah putranya, dengan syarat harus diadakan upacara selamatan dengan sesajen yang dilengkapi dengan dulang sebanyak empat puluh empat macam dan dibawa ke desa Kenaga.
Setelah diadakan upacara yang dipimpin oleh Nek Sura, putranya dapat kembali dan dipelihara oleh Nek Sura.

Raden Satria Nata tidak puas sebelum berjumpa dengan istrinya, namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Akhirnya, Raden Satria Nata meninggal di pertapaan.
Sementara itu, putra Raden Satria Nata telah berumur enam tahun, namun belum diberi nama. Lalu, dicarilah orang yang bisa memberi nama. Tujuannya adalah ke Gel-gel, tempat leluhurnya, barangkali ada yang bisa memberi nama. Konon pada saat menunggu perahu untuk menyeberang ke Bali, tiba-tiba datang seorang tua mengaku keturunan Satria Dayak, satu-satunya yang berhak memberi nama kepada putra Raden Satria Nata. Kemudian, putra Raden Satria Nata diberi nama “Satria Tampena”.

Dari nama Satria Tampena inilah konon asal nama kota Ampenan. Keturunan Satria Tampena terdapat di desa Suradadi, Kabupaten Lombok Timur.
=========================================================================
sumber : http://dongeng.org
read more

Minggu, 21 April 2013

Cerita Dongeng Dari Pulau Lombok | Legenda Suku Sasak

0 komentar

Cerita Dongeng Dari Pulau Lombok | Legenda Suku Sasak
Legenda Suku Sasak - Man uah batur ? Arak sopok cerite.. Judulna "Sandal Tak Tahu Diri " . Simak baik baik..

Dahulu kala hiduplah seorang raja. Baginda raja itu memiliki sepasang sandal dari kulit kerbau. Kedua sandal itu merupakan pasangan suami-istri. Sang suami disebut Papuq Mame (papuk = kakek, mame = laki-laki ) dan sang istri disebut Papuq Nine (nine = perempuan ). Karena ini cerita dongeng  jadi sepasang sandal ini bisa bicara.
Pada suatu malam, ketika sang raja tengah tidur sandal ini ( dalam bahasa Lombok disebut Lelampak ) terlihat khawatir. Pasalnya setiap musim hujan sang Raja sering memakai mereka karena raja merasa jika lelampak ini enak digunakan ditanah yang basah. Tak heran banyak tikus yang sering mengintai mereka karena meraka mengeluarkan bau yang digemari tikus.
“Puqen..”panggil lelampak jantan kepada istrinya.
“ya.”
“jika kita begini terus selalu diintai oleh para tikus itu kita bisa jadi mangsa mereka. Bagaimana jika kita memohon kepada Tuhan agar dijadikan sepasang tikus?”
“jika begitu kemauan mu aku menurut saja sebagai istri”jawab lelampak betina.
Mereka pun lalu berdoa kepada Tuhan. Atas kuasa-Nya jadilah lelampak itu sepasang tikus yang gagah.
Kebisingan yang sering terjadi pada malam hari ketika tikus-tikus mencari makan membuat sang raja meminta pengawalnya mencarikan kucing untuknya. Banyaknya kucing yang dipelihara raja membuat kedua tikus jelmaan lelampak itu kuatir. Mereka lalu berdoa untuk dijadikan sepasang kucing.
Akhrinya mereka menjadi sepasang kucing. Mereka sangat disayang oleh baginda raja dan permaisurinya karena kelincahan mereka dalam menangkap tikus serta bulu mereka yang bagus. Namun pada suatu hari kucing itu mulai merasa gelisah lebih tepatnya iri. Mereka iri kepada anjing yang selalu dibawa sang raja dalam berburu. Mereka ingin dijadikan anjing pemburu. Dan demikianlah akhirnya mereka kembali diubah menjadi sepasang anjing pemburu yang lincah dan pandai berburu. 
Raja amat menyayangi mereka. Tapi lagi-lagi kedua jelmaan ini tak menerima keadaan mereka yang telah menjadi anjing. Keduanya merasa kebebasan mereka terganggu serta banyak yang memusuhi mereka sebab kepintaran dan kelincahan mereka. Kemudian mereka pun berdoa untuk dijadikan raja dan ratu. Keinginan merekapun tercapai mereka menjadi sepasang raja dan ratu. Kerajaan mereka cukup megah dan mulai banyak pengikutnya. Keadaaan ini lalu sampai ketelinga sang raja yang merupakan majikannya dulu. Lalu tanpa berfikir lagi, sang raja menyuruh pasukannya untuk menyerang kerajaan yang baru saja dibangun oleh sepasang jelmaan itu. Karena kerajaan mereka masih baru, pasukan mereka tak sebanding dengan raja. Akhirnya habislah kerajaan mereka.
Kedua lelampak yang telah menjadi manusia ini pun sakit hati atas kekalahan mereka. Sang istri lalu menyarankan agar mereka kembali kekerajaan dan menjadi abdi disana. Tapi keegoisan sang suami membuat sang istri tak dapat berbuat apa-apa. Sang suami mendesak sang istri untuk menyetujui usulnya untuk yang kesekian kalinya. Sang suami ingin dijadikan sebagai Tuhan. Terpaksa sang istri menurutinya. Kemudian keduanya pun mulai berdoa. Namun ketika doa mereka selesai, seketika papuq mame dan papuq Nine berubah kembali menjadi sandal.
================================================================
read more

Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok Timur

0 komentar

Ini adalah Sebuah Cerita Rakyat dari Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, NTB. Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.

batu golog dari desa padamara, lombok timur, NTB - http://munsypedia.blogspot.com/Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk."

Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.

Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.

batu golog dari desa padamara, lombok timur, NTB - http://munsypedia.blogspot.com/Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.

Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.

("Batu Goloq," Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal. 21-25).
=======================================================================
Sumber : http://munsypedia.blogspot.com/
read more

Wali Nyatoq, Cerita Rakyat Dari Lombok Tengah

0 komentar

Makam Wali  Nyatoq - munsypedia.blogspot.comWali Nyatoq adalah waliyullah yang sangat melegenda di Pulau Lombok,  lebih-lebih  dikalangan masyarakat  Lombok  Tengah  atau  tepatnya  di  desa  Rembitan,  bagian Selatan Pulau Lombok. Sebutan Wali Nyatoq dikaitkan dengan tanda-tanda kewaliannya. Nyatoq  artinya  “nyata”  karena  masyarakat  sangat  

mempercayai  bahwa  Wali  Nyatoq benar-benar sebagai seorang wali. Konon wali nyatok memiliki 33 nama. Di setiap desa atau kampung yang pernah disinggahi, ia disebut dengan nama yang berbeda-beda. Salah satunya Sayyid Abdullah, gelar  ini diperoleh setelah beliau meninggal dunia. Tidak ada yang  tahu  persis  dari mana  ia  berasal,  sebagian masyarakat mempercayainya  bahwa  ia berasal dari Negeri Timur Tengah karena ciri-ciri wajah dan postur  tubuh yang dimiliki persis seperti dari Bangsa Arab. (Religi, 2002).
Perihal  kedatangan  ke  Pulau  Lombok  tidak  jelas.  Berdasarkan  penuturan  TGH Najamuddin  Ma’mun  (Pengasuh  PP  Darul  Muhajirin,  Praya,  Lombok  Tengah) menuliskan dalam bahasa sasak tulisan Arab Melayu. Wali Nyatoq datang dari arah barat dan menamakan dirinya Raden Datang. Kisah Raden Datang seringkali dikaitkan dengan cerita Mamiq  Butuh  dan  Inaq  Butuh  alias Amaq  Bangkol  dan  Inaq  Bangkol. Sekitar tahun  1800-an  di  zaman  kerajaan Karangasem  yang  dipimpin  oleh Anak Agung Gede Djelantik  dan masih menguasai Lombok. Disebutkan  sebuah  cerita  tentang  kedatangan Raden Datang  yang mampir  ke  Pondok Mamiq Butuh  yang  tinggal  di  desa Rembitan, Pujut Lombok Tengah. Mamiq Butuh adalah seorang penggembala kerbau.

Kedatangan  Raden  Datang  secara  tiba-tiba  yang  sebelumnya  didahului  oleh kedatangan Raden Farnas. Ketika itu, Mamiq Butuh sangat bersedih dengan linangan air mata karena ditinggalkan pergi oleh Raden  farnas. Raden  farnas adalah anak angkatnya dan tinggal bersamanya selama 8 tahun, akan tetapi kemudian Raden Farnas secara tiba-tiba menghilang. Di tengah kesedihan Mamiq Butuh, tiba-tiba datanglah seorang pemuda yang  sebelumnya  dianggap  Raden  Farnas.  Tetapi  sebenarnya  adalah  Raden  Datang. Setelah lama bercerita Raden Datang diperkenankan untuk tinggal bersama Mamiq Butuh dan  diangkat  menjadi anak  angkat.  Selang  beberapa  waktu  kemudian  Raden  Farnas akhirnya kembali pulang. Mamiq Butuh sangat senang dan sangat terhibur hatinya berarti kini  ia  telah  mempunyai  dua  anak  angkat  untuk  membantu  menggembalakan kerbaunya.

Hubungan  Raden  Farnas  dan  Raden  Datang  sangat  dekat  layaknya  seorang saudara kandung. Mamiq Butuh sangat berbahagia meskipun ia tidak memiliki keturunan tetapi Allah SWT mengkaruniakannya dua orang pemuda. Kasih sayang yang diberikan kepada kedua pemuda  itu  layaknya seperti anak kandungnya sendiri. Keduanya  terkenal sangat  ulet  dan  rajin. Ketekunan  dan  kerajinan Raden  Farnas  dan  raden Datang  dalam menggembalakan  kerbau  menjadi  buah  bibir  masyarakat  di  desa  Rembitan.  Kedua pemuda itu sedikitpun tidak pernah mengeluh, teman-teman sesama penggembala sangat senang  berkawan  dengan  keduanya.  Raden  farnas  dan  Raden  Datang  pun  sangat menghargai  teman-temannya,  sikap  dan  tutur  katanya  selalu  dijaga  agar  tidak menyinggung perasaan orang lain.

Setelah  tujuh  tahun  bersama  Mamiq  Butuh,  Raden  Datang  mengajukan permintaan  kepada  ayah  angkatnya.  Ia  meminta  untuk  dikhitan.  Permintaan  tersebut disambut gembira. Bukan hanya Raden Datang yang dikhitan  tetapi Raden Farnas  juga ikut dikhitan. Pada hari Kamis,  tganggal 12  (tidak disebutkan  tahunnya) dilangsungkan acara khitanan yang sangat meriah. Berbagai acara hiburan didatangkan untuk menghibur para  tamu  undangan  yang  datang.  Suguhan  berbagai  macam  makanan  serta  suara
tetabuhan  gendang  beleq,  rebana  terdengar  bertalu-talu  mengiringi  kebahagiaan masyarakat Rembitan pada waktu itu. Banyak kemudian masyarakat setempat mengikuti tatacara upacara seperti yang dilakukan Mamiq Butuh.

Masuknya  ajaran  agama  Islam  yang  mereka  terima  hanya  sebatas  keimanan, ajaran  itupun belum  terlalu sempurna, mereka menganut ajaran kepercayaan   Wetu Telu dan  pengaruh  budaya  animisme  dan  dinamisme  yang masih  kental. Adapun  kemudian yang mengikuti acara khitanan seperti  itu adalah Aman, Dona, Demin, Leman, Brahim, Samaq, Beruraq, Bika, dan Lembain. Mereka adalah teman dekat Raden Datang sesama penggembala kerbau. Tahun-tahun berikutnya banyak yang mengikuti tradisi tersebut.

Lima  tahun  setelah  dikhitan,  tepatnya  pada  hari Kamis  tanggal  13  bulan Rajab. Raden farnas dan Raden Datang mengajak teman-teman untuk bermain layang-layang di sebuah padang yaitu Lendang Batu Beleq yaitu di sebelah selatan desa Rembitan. Ketika layang-layang  naik  dengan  kencang  Raden  Datang  menyuruh  Raden  Farnas  untuk memegang  tali  layang-layang,  seketika  itu  juga Raden  Farnas melesat  ke  atas  bersama layang-layang.  Ketika  di  atas  Raden  Farnas  melihat  sekumpulan  orang  mengelilingi kotak  hitam  dan  mengelilinginya.  Akhirnya  dijawab  oleh  Raden  Datang  bahwa  yang dilihat itu adalah Ka’bah dan orang yang keliling itu adalah sedang bertawaf mengelilingi Ka’bah.  Kejadian  inipun  disaksikan  secara  nyata  oleh  teman-temannya  dan  apa  yang dilihat adalah sama seperti yang dilihat oleh raden Farnas.

Kejadian  ganjil  berikutnya  adalah  Raden  datang menyruh  Raden  Farnas  untuk menunggu kerbaunya sementara ia mau pergi shalat Jum’at di Makkah dan berjanji akan membawakan teman-temannya Bagek Mekah (kurma). Tiga jam kemudian Raden Datang kembali  dengan  membawa  sekarung  kurma  yang  dijanjikan  kepada  teman-temannya. Para sahabatnya kembali terheran-heran dan menanyakan tentang Makkah, shalat Jum’at, akan tetapi Raden Datang kemudian menjelaskan secara rinci. Berita ini kemudian tersiar sampai  ke  pelosok  desa  dan  kampung.  Berita  tentang  karomah  dan  kewalian  Raden Datang membuat masyarakat Rembitan terkagum-kagum dan mereka mulai mempercayai bahwa Raden Datang benar-benar seorang Waliyullah.

Semenjak  peristiwa  itu, masyarakat  desa Rembitan  semakin  tunduk  serta  yakin dengankeshalehan Raden Datang. Sebagai seorang wali beliau memiliki kharomah yang tinggi,  kekaroimahan  yang  sulit  ditunjukkan  dengan  pikiran  waras.  Kelebihan  yang diberikan  oleh  sang  pencipta menembus  batas  akal  pikiran  sehat,  logika  . masyarakat mulai mengikuti sikap dan prilaku Raden Datang yang biasa shalat Jum’at. Raden Datang kemudian mengajak masyarakat  untuk membangun masjid.  (Masjid  tersebut  terletak  di sebuah Gunung di desa Rembitan).

Setelah sekian lama bersama Mamiq Butuh kesedihanpun mulai menimpa Raden Datang.  Mamiq  Butuh  sakit-sakitan  kemudian  meninggal  dunia.  Selang  tujuh  tahun kemudian  Inaq  Butuhpun  meninggal  dunia.  Belum  kering  air  mata  kesedihan  Raden Datang, tujuh tahun kemudian Raden Farnas menyusul. Hari-hari dilaui seperti biasanya menggembala  kerbau  bersama  teman-temannya.  
Pada  suatu  ketika  Raden  Datang menunjukkan gelagat yang aneh. Ia menggali lubang. Prilaku ini menimbulkan keheranan bagi  teman-temannya.  Ia berpesan “lakukanlah apa yang menjadi pekerjaan kalian. Aku hanya ingin istirahat dalam lubang tanah ini”. Iapun masuk ke dalam lubang, sampai tiga kali  teman-temannya  memeriksanya  tetapi  ia  masih  terlihat  sedang  tertidur.  Tetapi keempat  kalinya  setelah  waktu  Isya.  Raden  datang  menghilang  dari  tempat pembaringannya.  Masyarakat  Rembitan  sangat  sedih  dengan  berita  menghilangnya Raden  Datang.  Karomah  dan  kewaliannya  betul-betul  nyata  sehingga  disebut  “Wali Nyatoq” 
========================================================================
Sumber : http://www.munsypedia.blogspot.com/
read more

Misteri Makam Loang Baloq Di Pulau Lombok

0 komentar

Seperti kepercayaan orang Indonesia kebanyakan, makam seringkali menjadi tempat keramat dan mistis. Makam, apalagi jika yang dikuburkan adalah tokoh terkenal dan berpengaruh biasanya akan menjadi tujuan wisatawan religi dan sejarah. Makam Loang Baloq dan Makam PPH Van Ham adalah dua makam yang terkenal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun begitu dua kawasan ini justru mempunyai kisah yang bertolak belakang.
Makam Loang Baloq - munsypedia.blogspot.com
Loang Baloq berasal dari kata dalam bahasa Sasak yang berarti pohon beringin yang berlubang. Ya, area ini memang ditumbuhi sebuah pohon beringin yang konon sudah berumur ratusan tahun. Makam Loang Baloq adalah kawasan pemakaman yang didalamnya terdapat puluhan jasad. Yang menjadi istimewa dan kerap dikunjungi warga adalah makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, makam Anak Yatim dan Datuk Laut. Syech Gaus Abdurrazak adalah pendakwah Islam dari Baghdad Irak yang menyebarkan Islam di Palembang dan kemudian Lombok sekitar 18 abad lalu. Setelah dari Palembang, ia meneruskan perjalanan dan mendarat di pesisir pantai Ampenan, Mataram. Setelah sampai, ia memberikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Makam Syech Gaus Abdurrazak inilah yang berada di lubang tepat di bawah pohon beringin berbentuk persegi panjang dengan lubang ditengah, tempat dimana para peziarah biasanya menaburkan bunga. Untuk masuk kedalam makam yang sudah berkeramik putih ini, peziarah perlu memasuki sebuah pintu masuk. Di samping pintu masuk telah disipakan air untuk pengunjung dan sebuah mushola. Sementara itu, makam Anak Yatim berada di samping bagian luar makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak dengan ukuran yang relatif lebih kecil. Di samping makam ini, terdapat makam Datuk Laut dengan bangunan permanen berukuran 3 x 4 meter berkeramik warna hitam.
Tidak hanya berziarah, pengunjung yang datang ke kompleks makam ini juga menggelar sejumlah ritual seperti potong rambut anak yang masih balita atau disebut dengan ngurisang. Peziarah biasanya juga menyampaikan nazar dan berdoa di makam agar segera permintaanya segera dikabulkan. Misalnya seperti minta jodoh, panjang umur, sehat dan murah rejeki. Bagi yang menyampaikan nazar tertentu, mereka selalu mengikatkan sesuatu ke akar gantung pohon beringin. 
Jika nazar mereka dikabulkan, mereka akan kembali lagi ke tempat itu dan membuka ikatan serta membayar nazar yang sudah disampaikan. Tradisi dan kebiasaan ini disebut dengan Saur Sesangi. Kompleks ini ramai dikunjungi warga saat lebaran Idul fitri hingga perayaan lebaran topat, tujuh hari setelah Idul Fitri dan perayaan Maulid Nabi. Kompleks makam Loang Baloq berada di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Ampenan atau sekitar 6 kilometer dari Mataram. Anda dapat dengan mudah menuju tempat ini karena dilalui oleh jalan lingkar Mataram yang sudah beraspal. Anda bisa naik kendaraan umum atau menyewa mobil.
========================================================================
Sumber : http://munsypedia.blogspot.com/
read more

Saksi Sejarah Masuknya Islam Di Pulau Lombok

0 komentar

Masjid Kuno Gunung Pujut adalah serpihan sejarah Islam masa lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kini kendati tidak lagi dipakai, namun bangunannya tetap menjadi bagian dari wisata religi dan sejarah yang mengingatkan kepada kita bagaimana penyebaran dan aktivitas ibadah agama Islam jaman dulu. Sebagai provinsi dengan mayoritas penganut agama Islam, masjid kuno Gunung Pujut adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat muslim.
Masjid Kuno Gunung Pujut - munsypedia.blogspot.com 
Bangunannya hingga kini terletak di sebuah bukit desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Masjid ini berukuran 8,6 x 8,6 m terbuat dari bambu dengan atap alang-alang. Tiang penyangga utamanya (saka guru) ada empat buah, tiang penyangga lainnya berjumlah 28 buah yang sekaligus berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding. Kompleks bangunan masjid ini termasuk pedewa yakni sarana kegiatan ritual bagi penganut ajaran Wetu Telu pada masa lalu. Kini secara formal kegiatan pengajaran yang terkait dengan Islam Wetu Telu sudah tidak ada lagi sehingga masjid ini diklasifikasikan sebagai monument mati atau dead monument.
Selain menjadi saksi sejarah penting, masjid ini sangat unik karena didirikan di atas bukit. Menurut berbagai publikasi sejarah mendirikan bangunan yang bernilai sakral di sebuah gunung atau bukit adalah suatu kebiasaan. Di gunung Pujut selain berdiri masjid kuno juga terdapat bangunan-bangunan lain yang digunakan sebagai ajang pemujaan yang disebut dengan pedewa. Baik masjid maupun pedewa digunakan sebagai tempat melakukan ritual agama masa itu.
Upacara yang berhubungan dengan agama Islam dilakukan di masjid dengan dipimpin seorang kyai. sedangkan upacara ritual pemujaan roh nenek moyang dipimpin oleh seorang pemangku. Pemangku dipercaya berhasil menghubungkan orang yang masih hidup dengan roh-roh nenak moyang mereka di masa lalu. Ritual seperti itu disebut Nyelame Desa serta Nyaur Sesangi. Seluruh lafal-lafal pemujaan dan matera dibacakan oleh pemangku sedangkan untuk nama roh nenek moyang diucapkan tiap umat. Selain memuja roh nenek moyang, juga ada pemujaan terhadap dewa-dewa yang ada dalam ajaran Hindu .
========================================================================
read more

Makam PPH Van Ham, Wisata Sejarah Lombok

0 komentar

Makam Loang Baloq dan Makam PPH Van Ham adalah dua makam yang terkenal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun begitu dua kawasan ini justru mempunyai kisah yang bertolak belakang. 
Makam PPH Van HamJika kompleks makam Loang Baloq berhubungan dengan sejarah syiar Islam masa lalu, makam PPH Van Ham terkait dengan sejarah pertempuran Belanda melawan kerajaan Mataram. PPH Van Ham adalah wakil komandan ekspedisi yang dipimpin Jenderal JA Vetter dengan pangkat Mayor Jenderal. Ekspedisi Belanda pimpinan Jenderal Ja Vetter tiba di pelabuhan Ampenan pada 5 Juli 1894. 
Pada saat itu Raja Mataram menolak kedatangan mereka sehingga terjadilah pertempuran yang menewaskan Mayor Jenderal Van Ham. Selanjutnya, Van Ham dimakamkan di pemakaman Hindu Karang Jangkong, sekitar 1 km dari kota Mataram. Karena lokasi pemakaman ini berada di tengah kota, banyak kendaraan umum yang dapat mengantar Anda sampai ke lokasi makam. Selain kendaraan umum, Anda juga bisa menumpang taksi dan cidomo. Sampai sekarang, kawasan makam Van Ham masih banyak dikunjungi khusunya orang-orang Belanda yang kebetulan sedang berada di Mataram.
========================================================================
read more

Masjid Kuno Bayan Beleq, Bukti Sejarah Islam Di Pulau Lombok

0 komentar

Lombok tidak hanya pulau dengan pantai dan pura, disini pun tersimpan jejak penyebaran Islam. Mesjid Kuno Bayan Beleq adalah salah satu situs yang menceritakan hal ini. Tidak hanya itu, karena diberi titel “masjid kuno” maka Anda mungkin akan takjub dengan bangunanya yang unik. Barangkali hanya Masjid Kuno Bayan Beleq-lah yang punya arsitektur seperti ini. Ukuran masjid ini cukup kecil, hanya 9 x 9 meter dengan dinding berasal dari anyaman bambu dan beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapisi dengan anyaman tikar bambu. Atapnya terbuat dari bilha-bilah bambu. Pondasi masjid ini menggunakan batu kali tanpa semen. Unik bukan?
Masjid Kuno Bayan Beleq
 
Konstruksi Masjid Kuno Bayan Beleq memiliki makna filosofi yang terdiri dari kepala, badan dan kaki yang menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara.
Masjid Kuno Bayan Belek ini terletak di kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara tepatnya berada di perbatasan antara Lombok Utara dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kawasan Bayan termasuk jauh dari pusat kota, atau sekitar 80 km dari Mataram. Oleh karenanya, wilayah ini masih sangat tradisional walaupun tidak berarti tertutup dari kehidupan modern. Tradisi masyarakat Bayan salah satunya terlihat dari bangunan rumahnya yang masih mengikuti bangunan asli para leluhur mereka yang juga mirip dengan arsitektur masjid. Itu mengapa, Anda mungkin agak kesulitan untuk menemukan masjid ini karena mirip dengan bangunan rumah Bayan pada umumnya. Masyarakat kampung Bayang juga memiliki beberapa kebiasan khusus yakni mereka sehari-hari mengkonsumsi padi bulu yakni jenis padi yang diyakini pertama kali ditanam di sawah Bayan. Ada juga keyakinan jika warga tidak menanam padi jenis ini maka mereka akan mengalami gagal panen.
Masjid Kuno Bayan Beleq didirikan sekitar 300 tahun lalu. Hingga kini siapa yang mendirikan masjid ini belumlah jelas. Beberapa sumber mengatakan masjid didirikan oleh seorang penghulu yang dimakamkan di komplek masjid tersebut yang dikenal dengan nama Makam Titi Mas Penghulu. Beberapa cerita yang lain menyebutkan Sunan Giri-lah yang membangun seiring dengan diberikannya sebidang tanah kosong oleh Raja Bayan kepada dirinya. Ada juga yang menyebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh Sunan Prapen atau yang dikenal dengan nama Pangeran Senopati yang tak lain merupakan cucu dari Sunan Giri. Kendati sejarah pendirian Masjid Kuno Bayan Beleq masih simpang siur, namun keunikannya tidak akan membuat Anda kecewa untuk mengunjunginya.
Nama “Beleq” di masjid ini berarti “makam besar”. Ya, ada sejumlah makam yang berada di kompleks masjid yaitu Gaus Abdul Rozak yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pertama di kawasan ini. Juga ada gubuk kecil di sebelah belakang kanan dan depan kiri masjid yang merupakan makam tokoh-tokoh agama yang ikut turun tangan pembangunan dan mengurusi masjid ini sejak awal.
Kini masjid ini tidak lagi digunakan untuk beribadah sehari-hari. Ya, masjid hanya dipakai saat hari besar peringatan agama Islam. Yang lebih menarik lagi, pada perayaan Idul Fitri, masjid ini tidak hanya menggelar sholat berjamaah namun 3 hari setelah itu diselenggarakan perayaan Lebaran Adat Tinggi. Menurut masyarakat setempat, perayaan ini digunakan untuk menopang dan memperkuat Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan pada perayaan lebaran Adat Tinggi ini disebut dengan Serah Ancak. Ancak adalah tempat membawa makanan yang berbentuk segi empat dan terbuat dari anyaman bambu dilapisi daun pisang. Diatas daun pisang inilah terdapat makanan dan lauk pauk seperti urap, sate, ikan, daging ayam, daging kambing dan lain-lain. Masing-masing bahan yang diletakkan di Ancak merupakan sumbangan dari warga desa secara sukarela. Memasaknya pun dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Bayan. Konon, dengan menyantap makanan Ancak ini, maka apapun yang kita inginkan akan berhasil.
Para wisatawan yang akan mengunjungi Masjid Kuno Bayan Beleq harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pengelola yakni harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot dan sapuk. Kompleks masjid ini banyak dikunjungi wisatawan pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad.
================================================================
read more

Legenda Putri Nyale

0 komentar

Menurut dongeng bahwa pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.
Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cintar. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.

Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.

Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ??Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.??

Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.
Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.
************
etiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.??Itulah yang berkembang selama ini,?? ujar Lalu Wirekarme yang pernah menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.

Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.
=======================================================================
Sumber : http://lomboknews.com/2007/10/03/legenda-putri-nyale-di-selatan-lombok-tengah/
read more

Asal Usul Nama Lombok

0 komentar

Lombok adalah nama sebuah pulau yang kini menjadi salah satu bagian propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau yang lain adalah Pulau Sumbawa. Pulau Lombok termasuk pulau kecil di kepulauan Nusantara, namun bagi propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu pulau yang besar. Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun, penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa. Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka pemeluk agama Islam.

Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya “perahu bercadik”.

Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah “sebia” (dibaca “sebie”)

Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak.

Nama Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti “sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”, sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu kerajaan Selaparang.

Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.

Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.


Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.

Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.


Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia). Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan Selaparang.

Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang kini diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.
=======================================================================
sumber : http://dongeng.org


read more

Sabtu, 20 April 2013

Cerita Dende Cilinaye

0 komentar

Cerita yang bertradisi panjian ini membuka tuturannya dengan menceritakan kemasygulan dua Raja bersaudara, yaitu Raja Keling dan Raja Daha. Konon kedua Raja tersebut belum dikarunia putra meskipun telah lama menikah. Karena hal tersebut kedua raja tersebut bersepakat untuk pergi ke sanggar pemujaan (Bahasa Sasak : pedewaq ) untuk melepas nazar ( sesangi ), guna memohon kepada Allah Yang Mahakuasa agar memperoleh putra. Dengan disaksikan oleh patuh, mentri-mentri dan kaula (pengiring), kedua raja tersebut melepas nazar.
Raja Daha, dengan tangan terkepal ia berkata “ Wahai seluruh rakyatku ! Wahai sang maha pencipta, dengarlah janji sesangiku (nazar), jika sekiranya aku dikaruniai anak putri aku akan datang ke tempat ini untuk menyerahkan tebusan dengan membawa dua ekor kerbau yang gemuk, akan kulapisi kulitnya dengan emas murni,  bertanduk Intan Belian, bersepatu Perak, dan berekor Sutra Kuning, inilah janjiku “.
Setelah itu tampillah raja Keling, iapun naik di bukit kayangan dengan suara lirih sambil menengadahkan kedua tangannya iapun berkata : “ Wahai zat yang Maha Pencipta dengarkanlah pintaku, aku mohon pada-Mu berikanlah aku seorang putra, jika engkau kabulkan do’aku ini aku akan datang ke tempat ini lagi denganmembawa, selembar Sirih, sebuah Pinang, sejumput Kapur dan sebatang Rokok, inilah janjiku.”
Tidak lama kemudian Tuhanpun mengabulkan permohonan mereka, kedua permaisuri tersebut telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Singkat cerita permaisuri Raja Daha melahirkan bayi perempuan dan permaisuri Raja Keling melahirkan bayi laki-laki.
Sebagai rasa syukur atas kelahiran putranya, pada hari yang keempat puluh Datu Keling mengajak punggawa kerajaan dan seluruh rakyatnya untuk mengadakan upacara syukuran sekaligus penebusan di pantai Kayangan, ia memerintahkan agar membawa dua ekor kerbau gemuk, bekulit emas, bertanduk intan permata dan bersepatu perak serta berekor sutra jingga. Dua ekor kerbau itu disembelih, kepalanya dibuang ke laut, daging-dagingnya dibagikan kepada pakir miskindan anak yatim. Demikian pula perhiasan Kerbau tersebut dibagikan kepada rakyatnya. Pada saat itulah putra kerajaan Keling diberi nama RADEN MAS PANJI.
            Lain halnya dengan Raja Daha, ia lupa pada janji yang telah diucapkannya. Ia terbuai oleh rasa bahagia karena mempunyai seorang putri. Sampai putrinya berusia dua tahun baru ia ingat pada janjinya.
            Maka iapun memerintahkan agar membawa dua ekor kerbau kurus yang tidak dihiasi dengan apapun. Ketika mereka berada di bulit Kayangan, tiba-tiba berhembus angin putting beliung, dengan takdir Allah yang maha kuasa, putri Raja Daha kemudian diterbangkan oleh angin dengan begitu cepat, raja terperanjat menyaksikan, tertegun tak mampu beruat sesuatu, permaisuri dan raja memandang kepergian putrinya yang melayang-layang. Raja hanya mampu memandang langit saja. Tiada tertuturkan nasib si bayi, sudah tak tampak lagi, menghilang dari pandangan mata, Rajapun seperti gila, ia berpeluk sambil menangis berguling-guling, Raja Daha tak sadarkan diri, nangis pula para pengiringnya suara tangis riuh rendah, akhirnya Datu Keling dan Datu Daha berangkat pulang ke negerinya.
            Putri raja yang diterbangkan angin putting beliung dan terjatuh di sebuah Taman Sari milik Raja Keling. Ditemukan oleh penungu Taman yang bernama Amaq dan Inaq Bangkol (bangkol = mandul ). Sang Putri dipeliharanya dengan penuh kasih sayang yang kemudian kemudian diberi nama Cilinaye ( si kecil yang sengsara ).
            Sementara itu putra Raja Keling yang bernama Raden Mas Panji juga tumbuh menjadi putra mahkota yang gagah. Kini usianya mencapai 17 tahun. Ia adalah seorang pangeran yang sangat cerdas, tampan dan penyabar. Setiap hari ia dilatih olah kanuragan oleh seorang guru. Selain itu ia juga diajar mengaji, ilmu agama dan ilmu budi pekerti.
            Pada suatu malam Raden Mas Panji bermimpi yang sanget aneh, ia bermimpi sang rembulan tiba-tiba turun dari langit dan jatuh dari pangjuannya, ia mendekap bulan itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika bangun Raden Mas Panji memanggil Raden Wirun seorang abdi dalem yang bertugas untuk mendampingi Raden Mas Panji.
 “ Kakang Wirun, semalam aku bermimpi yang sangat aneh,”
“ Oh ya, bolehkah aku tahu apa gerangan mimpi Adik Panji itu ?”
“ Aku bermimpi sang rembulan jatuh di pangkuanku, lalu aku mendekapnya erat-erat” tutur Raden Mas Panji.
“ Oh, benar-benar aneh mimpi Adik Mas Panji itu.Selama hidupku aku sendiri belum pernah mimpi seaneh itu “ kata Raden Wirun sedikit tercengang. ”sebaiknya kita ceritakan mimpi itu kepada ayahanda Prabu,” lanjutnya.
Raden Wirunpun tanpa pikir panjang, langsung menghadap Raja Daha untuk menceritakan mimpi Raden Mas Panji.
“setelah mendengar cerita mimpi tersebut, beliau sangat terkejut, sebentar kemudian Raja Dahapun berkata : “ Wahai anakku Raden Wirun mimpi anakku pertanda baik, jika anakmu Raden Panji pergi memancing, niscaya ia akan mendapat ikan yang banyak, jika ia berusaha pasti ia akan mendapat untung yang banak, jika ia berburu pasti ia akan mendapat binatang buruan yang banyak. Sampaikan salamku pada adikmu, jangan merasa sedih dengan mimpi itu dan suruhlah ia memilih pekerjaan yang yang hendak ia lakukan, yang jelas pastiia akan memperoleh keuntungan.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Raden Wirun, Raden Mas Panji pun mengajak Raden Wirun untuk berburu Kijang Putih. Dalam perburuan tersebut Raden Mas Panji ditemani oleh Raden Wirun, Patih Andaga dan paman Semar. Berhari-hari mereka berburu tak satupun binatang yang ia dapatkan sampai akhirnya mereka beristirahat di bawah pohon kayu yang rindang. Ketika sedang istirahat tersebut Rombongan Raden Mas Panji bertemu dengan Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol yang sedang mencari bunga di pinggir hutan. Setelah memperkenalkan diri Raden Mas Panji menawarkan diri untuk menginap di rumah Inaq Bangkol. Inaq Bangkol takut untuk menolak karena Raden Mas Panji adalah Putra dari Raja Keling yang merupakan pemilik dari taman Mekarsari yang dijaga oleh Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol.
            Diceritakan Raden Panji datang kerumah Inaq dan Amaq Bangkol. Mengetahui kedatangan Raden Panji, maka Inaq dan Amaq Bangkol menyembunyikan Cilinaye pada sebuah teropong yaitu bambu tempat memasukkan benang pada waktu menenun. Namun karena takdirnya memang berjodoh dengan Raden Panji maka rambut Cilinaye tersangkut pada hulu keris Raden Panji.
Diceritakan Raden Panji segera mengutus Raden Wirun untuk menghadap ayahandanya Prabu Keling, guna menceritakan keinginan Raden Panji untuk menikah dengan Anak Bangkol Cili. Sesampainya di Balairung kerajaan Raja Keling segera menyambut Raden Wirun dan menanyakan kabar Raden Panji  selama berburu. Setelah menghaturkan sembah, Raden Wirun menceritakan pengalaman mereka selama berburu. Dalam perburuan tersebut tak satupun buruan binatang yang didapat, selanjutnya Raden Wirun menceritakan kisah pertemuan mereka dengan Putri Bangkol Cili serta mengutarakan niat Raden Panji untuk mempersunting Putri Bangkol Cili.
Demi mendengar akan maksud putranya Raja Keling sangat murka. Sudah gilakah putraku itu, itu sama artinya dengan menjatuhkan badan di air yang kotor, dari pada ia kawin dengan anak babu itu lebih baik ia bunuh dulu saya, Raden Wirun ! katakan pada adikmu, nasehati dia apapun alasannya dia harus mengindari hubungannya dengan La Cili, saya selamanya tidak akan pernah memberi restu”.
Raden Wirun segera mohon pamit pada Raja Keling untuk menjumpai Raden Panji. Sesampainya di sana dijumpainya mereka sedang berkumpul. Raden Wirun segera menyampaikan pesan Raja Keling kepada Raden Panji yang berisi penolakan dan larangan untuk mengakhiri hubungannya dengan putri Bangkol Cili. Mendengar kabar tersebut Inaq Bangkol berkata : “Aduh Gusti, sudah kuduga sebelumnya, pastilah kami yang akan disalahkan, hamba mohon sudilah kiranya Raden meninggalkan putri kami demi menjaga martabat paduka dan demi kebaikan bagi kami. Namun dengan mantap Raden Panji berkata
“Sudah pasti, nasehat ayahanda Prabu akan kutolak, apapun yang terjadi siap aku jalani, lebih aku mati atau hidup menderita daripada tidak berjodoh dengan Sang Putri. Akhirnya meski tanpa restu Raja Keling, Raden Panji dengan dibantu oleh pengikut setianya tetap melangsungkan pernikahan.
            Pernikahan dua sejoli ini tidak direstui oleh Datu Keling karena menganggap anaknya mengawini orang kebanyakan ( bukan keturunan bangsawan ). Ketidak setujuan Datu Keling membawa tuturan berikutnya menjadi tragis. Datu Keling segera memerintahkan seorang penggawa kerajaan untuk memanggil juru Tuwok dan Dende Pati. Setelah menghadap Sang Prabu keduanya langsung menghaturkan sembah. Datu Keling kemudian berkata “ Adapun maksudku memanggil kalian adalah untuk melaksanakan tugas yang berat. Aku tidak ingin kerajaan ini ternoda oleh keturunan orang yang tidak jelas asal usulnya, untuk itu kalian harus melenyapkan Si Cili. Jika kalian gagal maka nyawa kalian taruhannya “.
Meski dengan berat hati Juru Tuwok dan Dende Pati menjawab “segala titah paduka akan kami laksanakan”.
Sementara itu Raden Mas Panji sengaja diperintah untuk mencari Kijang Putih untuk ibunya yang sedang sakit.
Diceritakan bahwa Juru Tuwok dan Dende Pati sudah sampai di tempat Putri Cilinaye. Dijumpai Putri Cilinaye sedang menyuapi putranya yang baru berumur enam bulan.
“Maksud kedatangan kami adalah untuk menjalankan perintah Prabu Keling, kami harus membunuh Cili ! kata Juru Tuwok.
“Kalau itu perintah Prabu laksanakanlah, akan tetapi hamba mohon diberi kesempatan untuk menyusui dan menyuapi putra hamba “ mohon Putri Cilinaye “ Baiklah, susui dan suapi anakmu sekenyang-kenyangnya “Sahut Dende Pati.
Dengan penuh deraian air mata Putri Cilinaye menyuapi putranya, sambil melantunkan tembang.
“Sudah menjadi suratan Takdir
Ketentuan dari Allah Yang Maha Kuasa
Yang harus aku jalani
Merupakan kesanggupan jiwa sejak azali.
Ketika telah sampai di tengah padang yang luas tempat Putri Cilinaye akan dibunuh berkatalah Dende Pati. “Disinilah kamu akan kami bunuh Cili ! kata Dende Pati. Dengan tenang Putri Cilinaye menjawab. “Hamba mohon tempat yang sepi dan jauh dari desa, hamba khawatir nanti bau bangkai hamba akan tercium oleh penduduk desa. Kalau tuan berkenan bunuhlah hamba di Tanjung Menangis, pinta Putri Cilinaye. Akhirnya disetujui tempat pembunuhannya di Tanjung Menangis.Sesampainya di Tanjung Menangis Putri Cilinaye berkata :
“Dengarkanlah oleh kalian !
“Kalau benar hamba ini keturunan rakyat jelata (sasak jajar karang) lihatlah nanti ! jika darah hamba berwarna merah dan berbau amis serta apabila darah hamba jatuh ketanah maka hamba benar-benar keturunan rakyat jelata. Akan tetapi lihatlah nanti ! jika darah hamba berwarna putih, berbau harum dan muncrat ke langit, maka hamba adalah keturunan kusuma (bangsawan).
Terbukti ketika Juru Tuwok menghujamkan keris pusaka tepat pada payudara Putri Cilinaye. Darah yang keluar berwarna putih berbau harum serta mencurat ke langit.
            Karena dihantui oleh perasaan tidak enak akhirnya Raden Mas Panji meninggalkan pulang ketiga pengawalnya yang masih dalam keadaan tidur. Setelah sampai di rumah Raden Mas Panji tidak menemui isterinya lama ia mencari akhirnya Raden Mas Panji menemukan mayat isterinya beserta anaknya.
Raden Panji berkata : “Allah, beginilah kejadiannya. Andaikan aku tahu begini jadinya, tentu takkan kutinggalkan kalian berburu. Tidaklah salah apa yang pernah dinda katakan, inilah siasat untuk memisahkan kita. Semoga Allah membalas perbuatan jahat mereka.
Aduh wahai ananda buah hati. Sungguh malang nasibmu masih kecil sudah sengsara, ditinggal mati ibu tercinta sebagai akibat dianiaya orang.
“Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan permohonanku agar nanda tetap dalam lindungan-Nya, semoga nanda selamat di dunia sampai akhirat”.
            Ketika mereka terbangun (dari istirahat setelah berburu), didapatinya Raden Panji sudah tidak ada ditempatnya. Merekapun berpencar untuk mencari kemana gerangan Raden Panji pergi. Lama mencari tanpa hasil merekapun memutuskan untuk pulang ke rumah isteri Panji Anom. Di rumah tak seorangpun didapatinya dalam keadaan termenung mereka mereka mendengar suara ghaib yang yang memberi tahu bahwa Raden Panji berada di Tanjung Menangis. Sesampainya di Tanjung Menangis didapatinya Raden Panji sedang memangku mayat isterinya Raden Andaga dan Turas Semar segera menghatur sembah dan mohon agar mereka mengganti Raden Panji untuk menggendong putra serta memandikan mayat isterinya, akan tetapi mesti sudah berulangkali diminta Raden Panji tetap menolak”.
            Karena rasa cinta Raden Mas Panji terhadap isteri maka mayat Cilinaye dibuatkan table (peti) lalu diikat dengan benang seribu depa. Tadinya adalah Ilham yang menyuruh agar mayat Cilinaye yang tersimpan di dalam peti dihanyutkan ke laut. Tersebutlah Raden Panji memegang talinya seraya mengikuti arah peti yang terhanyut dengan sendirinya.
Sepeningal Putri Cilinaye yang telah dihanyutkan dalam peti (table) Raden Panji memutuskan untuk tidak kembali ke istana dan membangun gubuk di tengah hutan. Secara bergantian mereka mencari buah atau daun yang dapat dimakan oleh Raden Panji.
Raden Panji yang sangat mencintai isterinya itu tetap menunggu di tepi pantai bersama anak dan lima orang pengiringnya yaitu Raden Wirun, Jurudeh, Semar, Togog, Andega, dan Kalang.
Pada suatu hari Raden Mas Panji meminta pendapat kepada pengawalnya untuk memberikan nama bagi anaknya. Kemudian Raden Wirun berpendapat “Menurut hamba, jika Raden berkenan hamba memberikan nama berdasarkan tingkahlakunya yang telah lalu, yang suka duduk di atas dangau (lanyon) sambil memainkan buah bile (maja), maka hamba mengusulkan namanya Panji Bile. Kemudian Tures Semar berkata “ Kalau hamba mengusulkan nama berdasarkan pengalaman hidupnya yang sengsara, dimana masih membutuhkan tali kasih ibunya, sudah harus putus (pegat) karena mati dibunuh orang. Oleh karena itu kalau tuanku berkenan hamba mengusulkan nama Raden Megatsih yang berarti megat (putus) Tali Kasih. Raden Panji Anom akhirnya menyetujui nama yang diusulkan oleh Turas Semar.
            Akhirnya cerita berakhir dengan pertemuan Cilinaye dan Raden Panji dengan perantara sang anak.
            Demikianlah cerita panjian ini dimana tokoh utama terlebih dahulu secara berkali-kali menemui kerumitan dan atau cobaan, namun kebahagiaan jua yang ditemui pada akhirnya.
================================================
read more

| Blog Abdul Hanan © 2013. All Rights Reserved | Template Style by My Blogger Tricks .com | Edited by Abdul Hanan | Back To Top |